In Admin Jalan-Jalan Di Jepang

Pengumuman: Jalan-Jalan Ke Tokyo, Jepang!


Hallo Jepangers!

Saya ada pengumuman kelas berat! Saya dan keluarga saya (total 5 orang) akan jalan-jalan ke Tokyo, Jepang pada tanggal 1 April 2019! Artinya... minggu depan kami sudah terbang! Wow!

Tunggu update dari saya ya. Pasti saya jelaskan semuanya dari awal sampai selesai. (^_^)


Pengumuman: Mau Jalan-Jalan Ke Tokyo, Jepang!


Tokyo = Tōkyō-to / 東京都

Bagikan

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Kerja Di Jepang Orang Jepang Pendidikan Jepang

Mengapa Bangsa Jepang Terobsesi dengan Ketepatan Waktu?

Bulan lalu, Jepang diguncang skandal. Bukan skandal korupsi atau sejenisnya tetapi seorang menteri yang terlambat datang ke parlemen.

Menteri Olimpiade Yoshitaka Sakurada terlambat tiga menit menghadiri sebuah rapat dengan parlemen.

Hal itu memicu aksi protes selama lima jam dari oposisi dan memicu kemarahan publik.
Beberapa hari setelah itu, Sakurada harus meminta maaf secara publik atas skandal itu.

Bukan hanya untuk tokoh ternama. Para pelaku bisnis, institusi, dan berbagai pekerjaan lainnya ketepatan waktu adalah yang terpenting di Jepang.

Pada 2018, sebuah kereta api yang dikelola perusahaan JR-West Railway tiba 25 detik lebih cepat di stasiun.

Meski datang lebih cepat, kondisi ini malah memicu kritkan publik yang memaksa perusahaan itu meminta maaf secara terbuka.

Insiden itu menjadi bahan pembicaraan luas di Jepang dan dianggap sebagai kesalahan besar yang dilakukan JR-West Railway.

"Ketidaknyamanan yang dirasakan para pelanggan kami sungguh tidak bisa dimaafkan," demikian pernyataan perusahaan tersebut.

Sejak usia dini, warga Jepang sudah diajari untuk menghargai ketepatan waktu.

"Orangtua saya selalu mengatakan pentingnya untuk tidak terlambat, memikirkan ketidaknyamanan orang lain jika saya terlambat, dan pemikiran itu sudah tertanam di benak saya," kata Issei Izawa (19), seorang mahasiswa.

Kanako Hosomura (35), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Saitama, mengatakan bahwa dia amat benci keterlambatan meski hanya semenit.

"Saya memilih datang lebih cepat jika telah memiliki janji. Sebab lebih baik saya yang menunggu daripada membuat orang lain yang menunggu saya," kata Kanako.

Perempuan itu menegaskan, dia tidak akan berteman dengan seseorang yang tidak bisa menepati waktu dan membuat orang lain tidak nyaman.

jepang

Menteri Olimpiade Jepan, Yoshitaka Sakurada terpaksa meminta maaf secara publik setelah terlambat tiga menit datang ke sebuah rapat dengan parlemen.

Namun, bagi sebagian orang budaya yang menekankan pada ketepatan waktu ini bisa amat menekan.

"Pacar saya bekerja di pusat informasi JR Railways. Pekan lalu, dia kembali bekerja dari istirahat dan atasannya mengatakan dia 10 detik terlambat," ujar seorang pria yang tidak mau disebutkan namanya.

Pria itu menambahkan, kekasihnya itu bahkan mendapatkan peringatan atas keterlambatan 10 detik itu.

"Ini terlalu ekstrem," kata dia.

Obsesi Jepang atas ketepatan waktu kerap dianggap mereka yang berkunjung ke Jepang sebagai kebiasaan terbaik negeri itu.

Kenyataannya, keterlambatan datang ke tempat kerja memberikan dampak terhadap perekonomian.

Di Inggris, para pekerja yang datang terlambat merugikan perekonomian hingga 9 miliar poundsterling atau Rp 170,6 triliun setahun. Demikian menurut laporan Heathrow Express 2017.

Lebih dari separuh pekerja yang disurvey laporan ini mengatakan, mereka kerap terlambat bekerja dan menghadiri pertemuan.

Di Amerika Serikat, keterlambatan juga memberikan dampak negatif. Di negara bagian New York, para pekerja yang terlambat mengakibatkan kerugian 700 juta dollar AS atau hampir Rp 10 triliun setahun.

Sementara di California, keterlambatan datang bekerja menimbulkan kerugian hingga 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14 triliun setahun.

Namun, Jepang tak selamanya menjadi tempat yang paling menghargai ketepatan waktu. Hingga akhir 1800-an, Jepang di masa pra-industrial masih bersikap amat santai.

Willem Huyssen van Kattendijke, seorang perwira AL Belanda yang datang ke Jepang pada 1850-an, menulis di catatan hariannya bahwa warga Jepang tidak pernah datang tepat waktu.

Saat itu, masih kata Willem, kereta api di Jepang bahkan kerap terlambat 20 menit dari jadwal seharusnya.

Di masa Restorasi Meiji (1868-1912), di saat Kaisar Meiji menghapus sistem feodal, menerapkan reformasi militer dan industrialisasi, ketepatan waktu menjadi norma bar.

Budaya baru ini dianggap menjadi kunci utama kemajuan pesat Jepang dari negeri agraris menjadi sebuah masyarakat industri modern.

Sekolah, perusahaan, dan jaringan kereta api, di mana ketepatan waktu diberlakukan ketat, menjadi institusi yang menjadi ujung tombak perubahan budaya ini.

Di masa inilah, jam tangan menjadi benda populer dan konsep 24 jam sehari menjadi hal yang familiar bagi warga biasa.

Di atas semua itu, menurut peneliti Ichiro Oda, saat itulah warga Jepang menyadari konsep "waktu adalah uang".

Pada 1920-an, ketepatan waktu dilembagakan dalam berbagai propaganda negara.

Berbagai poster soal ketepatan dan penghematan waktu disebar. Misalnya bagaimana cara perempuan menata rambut dalam lima menit jika tak ada acara khusus.

Sejak saat itulah, ketepatan waktu dikaitkan dengan produktivitas di perusahaan dan organisasi. Demikian penjelasan Makoto Watanabe, guru besar ilmu komunikasi dan media di Universitas Bunkyo Hokkaido.

"Jika pekerja datang terlambat, perusahaan dan pekerja lain akan menderita," kata dia.

"Secara pribadi, jika saya terlambat, maka saya tak bisa menyelesaikan tugas yang seharusnya saya kerjakan," tambah dia.

Sedangkan Mieko Nakabayashi, guru besar ilmu sosial di Universitas Waseda mengatakan, amat penting para pekerja datang tempat waktu.

"Jika Anda tak bisa melakukan itu, maka Anda dengan cepat mendapat reputasi buruk di dalam perusahaan," kata Mieko.

Meski demikian, lanjut Mieko, ketepatan waktu tidak berbanding lurus dengan efisiensi.

Pada 1990, tragedi terjadi di prefektur Hyogo saat pelajar berusia 15 tahun tewas tergencet gerbang sekolah.

Dia tewas saat berusaha menyelinap saat gerbang sekolah mulai ditutup pada pukul 08.30 waktu setempat.

Guru yang menekan tombol penutup gerbang dipecat dan insiden itu memicu debat publik.

"Saat itu, amat lazim menutup gerbang tepat waktu dan menghukum siswa yang terlambat berlari mengelilingi lapangan," ujar Yukio Kodata (33), warga Kanada keturunan Jepang yang kini tinggal di negeri leluhurnya itu.

Yukio menambahkan, catatan keterlambatan siswa datang ke sekolah bisa memengaruhi peluang mereka masuk ke universitas.

Ujungnya, penekanan pada ketepatan waktu dan kaburnya batas untuk waktu lembur memengaruhi kualitas hidup.

"Di Jepang, warga memiliki mentalitas bahwa jika orang lain melakukan itu, maka mereka harus melakukan hal yang sama," kata Yukio.

"Banyak teman saya yang datang dari Jepang ke Kanada, tak ingin pulang. Mereka suka makanan dan hiburan di Jepang, tetapi mereka tak ingin bekerja di sana," tambah dia.





Bagikan

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Kekaisaran Jepang Politik Di Jepang

Pangeran Naruhito, Penerus Kaisar Jepang yang Bersahaja

Kaisar Akihito sudah mengumumkan akan lengser pada tanggal 8 Agustus 2018, melalui rekaman video yang disiarkan oleh stasiun televisi di Jepang.

Rekaman yang berdurasi 10 menit itu intinya, bahwa kaisar merasa kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk menjalankan tugas sebagai kaisar (tennou) karena faktor usia.

Pada tanggal 8 Desember di tahun yang sama, Parlemen Jepang membuat keputusan bahwa kaisar akan turun takhta pada tanggal 30 April 2019, dan digantikan putranya yang akan dinobatkan sebagai tennou baru pada tanggal 1 Mei 2019.

Publik Jepang tentu sudah tidak asing lagi dengan sosok Pangeran Naruhito, putra pertama kaisar pada era Heisei yang sekarang. Namun bagi publik Indonesia, tentunya sang pangeran tidak begitu dikenal (walaupun tidak dapat dimungkiri bahwa ada juga orang Indonesia yang tahu).

Oleh karena itu, perkenankanlah saya mengenalkan sedikit tentang sosok Pangeran Naruhito.

Masa kecil dan Sekolah

Pangeran Naruhito dilahirkan pada tanggal 23 Februari 1960 (era Showa tahun ke-35). Sehingga, tahun ini dia genap berusia 59 tahun.

Dia mempunyai 2 saudara, yaitu adik laki-laki yang lahir pada tahun 1965, lalu adik perempuan yang lahir tahun 1969. Kalau kita melihat silsilah keluarga kaisar disini, hanya Pangeran Naruhito dan adiknya Pangeran Fumihito saja yang terlihat. Karena, memang adik perempuannya (Kuroda-san) sudah menikah dengan orang biasa, sehingga namanya tidak terpasang pada silsilah keluarga kekaisasan.

Kaisar Akihito---ayahnya---dinobatkan menjadi tennou era Heisei pada usia 55 tahun, saat kakek Pangeran Naruhito meninggal (hougyo dalam Bahasa Jepang) pada tahun 1989. Sehingga kalau dibandingkan dengan ayahnya, dia telat 4 tahun untuk menjadi Kaisar yang ke-126 nanti.

Kaisar Akihito berusaha mendidik anak-anaknya seperti anak-anak orang kebanyakan. Ini mungkin karena Kaisar Hirohito---kakek Pangeran Naruhito yang bertakhta pada era Showa---juga mengajarkan bahwa cinta kepada keluarga adalah hal yang paling penting.

Hal ini bertolak belakang dengan keadaan era Meiji atau Taisho, dimana cinta kepada negara atau publik (dalam Bahasa Jepang disebut ko) adalah lebih penting dari cinta kepada keluarga atau pribadi (dalam Bahasa Jepang disebut shi). Pandangan masyarakat umum pada saat itu juga sama.

Pada era dahulu, anak-anak kaisar tidak tinggal bersama dengan keluarga (ayah-ibu). Namun sejak era Heisei, kaisar mempunyai pandangan bahwa keluarga adalah ikatan yang terpenting dari segalanya. Sehingga anak-anak kaisar tinggal bersama dengan keluarganya. Cara pandang orang kebanyakan pun berubah sejak era ini, yang menjadikan keluarga sebagai bagian terpenting dalam kehidupan.

Bahkan Kaisar Akihito ingin agar pangeran lebih merakyat lagi dan bisa berbaur dengan orang biasa sejak usia dini. Sehingga sewaktu masih kecil, Pangeran Naruhito dimasukkan ke Taman Kanak-kanak (TK). Ini yang menjadikannya juga sebagai orang pertama dari keturunan tennou yang masuk TK.

Keluarga kaisar juga sering terlihat olahraga bersama-sama. Olahraganya bukan berkuda, seperti yang banyak digemari kaum kelas atas. Namun, mereka bermain tenis, dimana pada waktu itu tenis memang olahraga yang digemari orang kebanyakan.

Pangeran Naruhito, Penerus Kaisar Jepang yang Bersahaja

Pangeran Naruhito masuk Universitas Gakushuuin pada usia 18 tahun. Jurusan yang ditekuninya adalah Sejarah. Kemudian setelah lulus, dia melanjutkan ke jenjang pasca sarjana di universitas yang sama. Hal ini juga menjadikan Pangeran Naruhito sebagai orang pertama dari keturunan kaisar yang melanjutkan sekolah ke jenjang pasca sarjana.

Selama masa belajar sebagai mahasiswa pasca sarjana di Universitas Gakushuuin, dia juga sempat menjadi mahasiswa Universitas Oxford di Inggris selama 2 tahun. Disana dia melakukan penelitian tentang Sejarah Transportasi Air.

Karena dia tinggal sendirian di asrama selama belajar di Oxford, maka hal ini juga yang menjadikannya mandiri, tidak seperti keluarga bangsawan kebanyakan. Dia sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri, seperti bebenah ruangan, mencuci lalu menyetrika baju, dan kegiatan lain yang biasa dilakukan oleh mahasiswa di perantauan.

Kehidupan Keluarga

Pertemuan pertama Pangeran Naruhito dengan permaisurinya berlangsung di Touguu Gosho (atau Touguu Palace) yang berlokasi di Akasaka, pada saat diadakannya perjamuan untuk menyambut kedatangan Ratu Spanyol di Jepang. Pangeran Naruhito saat itu berusia 26 tahun, dan Putri Masako berusia 22 tahun.

Setelah itu, mereka beberapa kali bertemu dan sempat LDR (Long-distance Relationship) juga karena Putri Masako, yang saat itu adalah seorang diplomat, harus sekolah ke Universitas Oxford di Inggris. Putri Masako sendiri meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Harvard.

Setelah perjalanan panjang selama 7 tahun, akhirnya Pangeran Naruhito menikah dengan Permaisuri Masako pada tanggal 9 Juni tahun 1993. Ada sekitar 190 ribu penduduk memadati jalan saat dilangsungkannya parade setelah upacara pernihakan mereka.

Jalur parade yang dilakukan dengan mobil terbuka berjarak sekitar 4,2 Kilometer, yaitu dari Koukyo (tempat kediaman kaisar) sampai ke Toguu Gosho. Acara parade ini juga disiarkan langsung oleh stasiun televisi NHK, yang tercatat juga sebagai acara dengan rating yang tinggi.

Pada tanggal 1 Desember 2001, mereka dikaruniai putri yang diberi nama Aiko. Saat ini, putri mereka sedang bersekolah di SMA Gakushuuin. Tempat tinggal Pangeran Naruhito dan keluarga adalah di Touguu Gosho. Setelah naik takhta nanti, tempat tinggalnya akan pindah ke Koukyo di daerah Marunouchi.

Pribadi yang Ramah

Pangeran Naruhito mempunyai pribadi yang ramah kepada semua orang. Contohnya, sewaktu dia masih sekolah, tentunya ada banyak kegiatan darmawisata atau karyawisata yang diikutinya. Lokasi dari kegiatan tersebut umumnya meliputi daerah di seluruh pelosok Jepang.

Pada kesempatan itu, bila dia sedang berada di suatu daerah, pejabat didaerah tersebut (misalnya camat atau lurah) tentunya ingin bertemu sekedar untuk mengucapkan selamat datang. Biasanya sih, kalau orang-orang dari kerabat kekaisaran, terkadang mereka menolak dengan berbagai macam alasan. Namun, Pangeran Naruhito selalu menerima permintaan tersebut.

Bukan hanya itu saja. Pangeran Naruhito juga terkenal ramah diantara teman-teman sekolahnya. Bahkan kepada para pegawai yang bekerja di lingkungan kantor administrasi kekaisaran (kunaichou).

Perhatian terhadap Masalah Orang Banyak

Pribadi yang bersahaja bisa juga kita lihat dari perhatiannya terhadap masalah yang dihadapi oleh orang banyak. Contohnya masalah air, dimana ada beberapa tempat di bumi ini yang belum bisa mendapatkan air bersih secara teratur.

Bahkan untuk urusan ini, dia diangkat sebagai ketua Komite Penasihat masalah Air dan Sanitasi, yang berada dibawah naungan Persekutuan Bangsa-bangsa. Dia menempati kedudukan itu untuk masa jabatan tahun 2007 sampai dengan tahun 2015.

Selain air, dia juga menaruh perhatian kepada masalah populasi orang tua yang meningkat drastis, sehingga kesejahteraan mereka juga harus dipikirkan. Tidak hanya itu, beberapa masalah lain yang juga menjadi perhatiannya adalah masalah menurunnya angka kelahiran, masalah pendidikan untuk anak-anak, masalah pertukaran kebudayaan antar bangsa (internasional) dan lainnya.

Sewaktu terjadi bencana besar Jepang Timur, yang juga menyebabkan meledaknya PLTN Fukushima tahun 2011 yang lalu, pangeran beserta permaisuri juga mengunjungi korban bencana yang mengungsi di beberapa tempat di sekitar Tokyo. Bahkan mereka berdua, pada bulan Juni sampai Agustus di tahun yang sama, mengunjungi langsung daerah yang terkena bencana di Prefektur Miyagi, Fukushima dan Iwate.

Kaisar Akihito setelah lengser nanti akan bergelar joukou. Dan Pangeran Naruhito akan menjadi tennou yang baru.

Keberadaan jouko dan tennou pada saat yang bersamaan terjadi terakhir kali di era Edo akhir pada tahun 1817. Jadi kejadian ini bisa dibilang kejadian yang langka setelah peristiwa yang sama terjadi sekitar 200 tahun yang lalu.

Setiap pergantian kaisar, maka penanggalan Jepang (wareki) juga akan berubah. Tahun ini adalah era Heisei, dan nama "Heisei" ini dalam Bahasa Jepang disebut gengou. Dengan pergantian tennou maka gengou juga akan berubah.

Nama gengou baru kabarnya akan diumumkan kurang lebih seminggu lagi, yaitu tanggal 1 April nanti. Masyarakat Jepang juga sangat antusias dan menyambut dengan gembira peristiwa ini.

Karena, selain publik menunggu apa nama gengou barunya, pergantian kaisar kali ini adalah karena turun takhtanya kaisar, bukan karena mangkatnya kaisar. Terlebih, tahun depan akan diselenggarakan Olimpiade Tokyo, yang kabarnya juga akan dibuka oleh kaisar yang baru.

Jepang akan menyongsong era baru sebentar lagi. Apa nama gengou baru yang dipilih dan ditetapkan oleh parlemen Jepang nanti? Kita tunggu saja bersama-sama.


Bagikan

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Arsitektur Jepang

[Video] Indahnya Masjid Tokyo Camii Jepang

Mesjid Tokyo Camii yang terletak di wilayah Shibuya, Tokyo Jepang, memang luar biasa. Disamping sebagai mesjid terbesar nan indah di negeri Sakura itu, mesjid ini juga banyak menyimpan sejarah yang belum banyak diketahui publik. Tidak salah Reino dan Syarini memilih mesjid ini untuk mengikat janji suci mereka. Sejak dibangun pada tahun 1938, mesjid agung ini sudah mengalami dua kali renovasi. Kemudian pada tahun 2000, setelah renovasi total ia kembali dibuka untuk publik.






Masjid = Mosuku / モスク

Bagikan

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Anime Pendidikan Jepang

Falsafah Pendidikan Jepang dalam Film Doraemon "Time Paradox"

Jika Pendidikan Hanya menghargai Nilai Akademik

"Time Paradox, teori tentang kontradiksi dalam Perjalanan menembus waktu dikarenakan berbagai hal yang dapat merubah sejarah? Sekarang ini. Perkembangan peradaban kita sedang tersendat dan mengalami jalan buntu, benar? Sedangkan melihat kenyataan yang ditunjukkan oleh Doraemon saat kita masih kecil. Perkembangan manusia saat ini terlampau lamban. Oh ya, kamu masih ingat? Saat kita masih kecil, Doraemon memperlihatkan gambar. Pada saat kita dewasa nanti, jalan-jalan keluar angkasa adalah hal yang biasa. Iya kamu benar! Bepergian dengan pintu ke mana saja. Mesin yang menghasilkan makanan hanya dengan satu tombol saja. Bahkan robot pelayankan? Karena itulah sebagai seorang pengamat aku terus berusaha dengan teliti. Supaya semua hal itu menjadi kenyataan." (Percakapan Nobita dan teman-temannya)

Mengubah cara pandang pendidikan pada sebuah bangsa memang tidak mudah. Waktunya bisa sangat panjang dan mungkin lintas generasi. Sesulit apapun, pendidikan harus berubah, agar sebuah bangsa bisa berdaulat. Tanpa sebuah pendidikan, bangsa Indonesia masih akan kalah dengan bangsa lain.

Buat apa negara kita kaya raya gemah ripah loh jinawi, jika pada akhirnya kita miskin sumberdaya manusia. Karena miskin sumber daya manusia, kekayaan alam kita justru dinikmati oleh bangsa lain. Buruknya lagi, kita merasa bangga jika kemudian malah menjadi buruh di negeri sendiri. ironi sebuah bangsa zamrud khatulistiwa, tetapi rakyatnya masih banyak yang sengsara.

Soalan pendidikan kita sampai saat ini masih tidak berubah. Setiap pergantian pemimpin tidak pernah berubah inti dari pendidikan kita. Saat ini malahan, pendidikan kita sangat berbau kapitalistik. Pendidikan hanya diperjualbelikan yang kemudian hanya sedikit orang yang mampu membelinya.

Watak pendidikan yang diperjualbelikan, pada akhirnya menjadikan bangsa ini mudah dijajah. Pendidikan tidak menghasilkan orang-orang yang cerdas dalam ilmu pengetahuan. Watak pendidikan kita hanya menghasilkan lulusan yang suka menipu.

Kenapa seperti itu bisa terjadi?

Menurut saya, karena pendidikan kita hanya mementingkan sebuah nilai akademik. Watak pendidikan kita hanya mengejar juara pertama. Maka, orang yang pintar adalah yang nilai akademiknya paling tinggi. ukuran itulah yang menjadi dasar kehidupan berbangsa kita sampai saat ini.

Sebab mengejar nilai yang paling tinggi, maka segala cara dihalalkan untuk mendapatkannya. Kecurangan tidak menjadikan ukuran penilain akademik seseorang. Wajar kemudian banyak siswa yang lebih menyukai menyontek untuk mengejar nilai tertinggi.

Kekuatan Jepang dalam Jiwa Doraemon dan Prof Nobita

Falsafah Pendidikan Jepang dalam Film Doraemon Time Paradox

"Tapi bukan nilai yang kuinginkan. Melainkan ilmu pengetahuan yang lebih jauh. Dan aku masih terus berusaha lagi" (Prof Nobita)

Selama ini saya sangat suka menonton film Doraemon. Bukan hanya film Doraemon, tetapi beberapa animiasi film Jepang saya menyukainya. Mungkin aneh, orang setua saya masih menyukai film animasi. Film bukan hanya sebuah tontonan.

Film hadir menjadi seni merepresentasikan falsafah hidup sebuah bangsa dan negara. Tidak hanya sampai disitu, film juga menjadi penentu sebuah kedigdayaan sebuah negara dan bangsa. Melalui film, akan terbentuk budaya populer yang secara langsung akan memengaruhi budaya bangsa lain.

Pada sebuah film itulah, akan nampak sebuah visi hidup sebuah bangsa. Bayangkan, jika sebuah bangsa filmnya hanya berisi tentang tema azab, budaya apa yang akan terbentuk dalam masyarakatnya. Itulah yang terjadi pada budaya yang dikonstruksi oleh film atau sinetron Indonesia.

Dulu saya menganggap film Doraemon merupakan film anak yang sangat konyol. Film anak yang tidak memberikan pelajaran apapun. Kantong ajaib yang dimiliki oleh Doraemon itu saya anggap aneh. Mana mungkin ada kantong tubuh yang bisa menghasilkan seluruh permintaan. Maka, pesan film Doraemon itu saya anggap paling aneh dan tidak realistis.

Faktanya, prasangka saya benar-benar salah kaprah. Film Doraemon justru merupakan sebuah usaha untuk mewujudkan peradaban baru dengan ilmu pengetahuan teknologi. Doraemon merupakan representasi bangsa Jepang itu sendiri. Doraemon merupakan sosok bangsa Jepang yang mampu mewujudkan permintaan seluruh manusia dengan menggunakan tekonologi.

Sudah puluhan tahun film Doraemon saya tonton. Justru mimpi Doraemon saat ini benar-benar diwujudkan oleh masyarakat Jepang. Bangsa ini tumbuh menjadi bangsa yang selalu menghasilkan teknologi baru.

Termasuk visi tentang menjelajah ruang angsa dan ruang waktu. Merupakan gagasan konyol dalam film Doraemon. Tetapi, gagasan konyol itu menjadi nyata di tangan bangsa Jepang. Mereka sudah mendahului bangsa Indoenesia menjelajah ruang angkasa.

Pada akhirnya Nobita yang cengeng itu menjadi seorang ilmuwan. Ia masih terus mengembangkan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemajuan bangsa Jepang.

Kita seharusnya belajar di Jepang dan Film Doraemon. Bangsa yang besar adalah saat rakyatnya mengajar pendidikan bukan hanya mengejar nilai. Itulah pesan terakhir yang disampaikan oleh Prof Nobita di akhir Film Doraemon.






Bagikan

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments