In Berita Dari Jepang Budaya Jepang Orang Jepang Tradisi Jepang

Mamatomo: Kelompok Mama Jepang


Sesuatu tidak selalu sesuai dengan apa yang kita lihat. Majalah wanita Josei Seven menulis, jika "mamatomo" tidak dilandasi ketulusan yang sebenar-benarnya, maka mungkin semua jenis pertemanan juga tidak memiliki ketulusan yang sesungguhnya.

Apa itu "mamatomo"?

Mamatomo, yang berarti 'persahabatan para mama', adalah grup-grup informal yang dibentuk oleh kaum ibu dari anak-anak kecil. Para anggotanya biasanya berada di taman atau lapangan bermain sekolah, dan berkumpul bersama dalam periode-periode waktu tertentu untuk berbincang satu sama lain, baik hanya sekadar membicarakan kabar terbaru atau memberikan dukungan moral satu sama lain dalam hal pembinaan anak.

Dan tentunya pemberian support seperti ini sangat bermanfaat bagi para ibu. Terkadang rasanya sangat membantu jika kita memiliki teman yang berada dalam kondisi yang sama, yang mengerti kita dan mampu memberi kita dorongan.

Tapi bagaimana jika hal-hal yang terkesan baik itu dilandasi rasa sakit hati?

Mamatomo: Kelompok Mama Jepang

Nyonya A berumur 37 tahun. Satu tahun yang lalu, anak laki-lakinya baru saja menginjak bangku sekolah dasar, yang kemudian juga membawa ibunya terhadap proses interaksi sosial baru dengan kaum ibu disana. Mereka selalu bertemu saat makan siang, bercerita tentang masalah-masalah rumah tangga yang mereka alami, memberikan saran dan dorongan, dan lain sebagainya.

Pada suatu hari, Nyonya A yang tidak merasa haus tidak memesan minuman dari kantin, sementara teman-temannya yang lain memesan.

Lalu? Ini bukan masalah, kan? Bagi kita, hal ini tidak terlihat seperti sesuatu yang aneh atau bahkan berkonotasi buruk. Tidak. Tapi apa yang ada di benak kita, berbeda dengan apa yang ada di benak para ibu lainnya. Setelah hal itu terjadi, Nyonya A tidak lagi diundang untuk ikut makan siang bersama mereka keesokan harinya. Para ibu tersebut pun tidak lagi menyapa saat mereka bertemu di jalan. Dengan begitu saja, Nyonya A sudah dikucilkan.

"Mungkin mereka berpikiran, 'kalau kau sebegitu pelitnya terhadap uangmu, kami hanya akan membebanimu.'" Begitu ucap Nyonya A.

Hal apa yang bisa seseorang pelajari dari permasalahan ini? Ada 2 kemungkinan, yaitu (1) kita harus pesan apa yang orang lain pesan; atau (2) tetap jaga kemandirianmu dan keluar dari mamatomo.

Ayo kita lihat kasus lainnya yang serupa. Nyonya B adalah seorang ibu berumur 39 tahun yang beranakkan seorang gadis kelas 5 SD. Dan seperti Nyonya A, ia pun memiliki lingkaran persahabatannya sendiri dengan para ibu lain.

Tapi dalam kasus seorang Nyonya B, kejadian ini tidak membuatnya terperosok dalam pergaulan, melainkan membentuk sebuah dilema tersendiri dalam dirinya.

Pada suatu hari, mereka sedang berkumpul dan berbincang seputar tas bermerk yang ditenteng oleh seorang ibu disana. "Bagus sekali!" -- "Aku suka!" -- "Belinya dimana?" ujar ibu-ibu tersebut. Sang pemilik tas pun menanggapinya dengan ringan, "Aku mendapatkannya dengan murah dari seorang teman yang tinggal di luar negeri. Kalau kalian juga mau tas seperti ini, aku bisa memesannya."

Tentu saja, semua ibu mengangguk terhadap tawaran tersebut tanpa masalah. Semua, kecuali Nyonya B. Kenapa? Karena kondisi finansial keluarganya yang sebenarnya tidak mendukung untuk membeli barang-barang kebutuhan tersier. Tetapi karena ia tidak ingin terlihat mencolok, ia pun akhirnya mengangguk bersama yang lainnya dalam membeli sebuah tas elit berdiskon, meskipun dengan berat hati.

Mamatomo: Kelompok Mama Jepang

Josei Seven kembali menekankan permasalahannya:

"Kondisi perekonomian kini semakin memperluas jurang pembatas antara si kaya dan si miskin. Lingkungan persahabatan seperti itu mungkin nampak jinak di permukaan, tapi sebenarnya ada sebuah kompetisi hebat yang terjadi di dalamnya. Kompetisi apa? Kompetisi dalam segala hal: pendapatan suami, status pekerjaan, kekayaan keluarga, penampilan fisik, pencapaian akademik anak, make-up para ibu, sepatu bermerek mahal - bahkan sampai popok yang dikenakan sang bayi."

Sebuah survei informal oleh Josei Seven mengungkap bahwa sejumlah 60.8% ibu masih menghargai mamatomo karena bisa tukar-menukar informasi tentang edukasi anak, 57.7% ibu menginginkan tempat agar mereka bisa berkonsultasi tentang masalah yang mereka alami, sedangkan 44.3% menginginkan dorongan moral secara keseluruhan, yang bisa mereka dapatkan dari lingkup pertemanan tersebut.

Tentunya mamatomo akan menjadi perkumpulan yang sangat berguna jika benar hanya 3 alasan itu saja yang terkandung di dalamnya. Sayangnya, banyak sekali hal-hal negatif yang berkembang. Bagaimana dengan mamatomo di Indonesia ya?


Mamatomo = Persahabatan Mama / ママ友

Bagikan

Related Articles

4 comments:

  1. kelompok seperti ini (mamatomo) diseluruh dunia juga ada, namnya aj beda tapi intinya sama. Dari anak2 sampai ibu2 jg ad. dr kelompok bermain anak2 biasa sampai kelompok ibu2 pengajian (indonesia). Pada dasarny manusia itu makhluk sosial, mau tak mau hrs ikut hal2 yg seperti itu. Tergantung golongan/kelompok apa/siapa yg qt ikuti.

    BalasHapus
  2. @Ika - Merdeka!

    BalasHapus
  3. arisan bu....

    BalasHapus
  4. jadi inget dengan film Shinchan.... Ibu shinchan sama ibu teman2 shinchan berkumpul sambil membicarakan anaknya masing2..........

    BalasHapus