Seperti Apa Pengeluaran Para Wanita Jepang?


Situs portal wanita Jepang, My Navi Woman, baru-baru ini merilis hasil survei pada wanita-wanita karir tentang pengeluaran terbesar mereka, dan apakah ada perasaan menyesal dengan pengeluaran tersebut di kemudian hari.

Seperti Apa Pengeluaran Para Wanita Jepang

Tidaklah mengherankan bahwa aksesoris fashion menempati peringat pertama dalam daftar belanja yang disusun dari jawaban 299 wanita berusia antara 22 sampai 34 tahun. "Barang yang paling mahal yang pernah saya beli adalah jam tangan Cartier, yang saya beli untuk diri saya sendiri saat berusia 30 tahun," jawab Matsuko, seorang asisten eksekutif berusia 32 tahun. "Harganya sekitar 450.000 yen (sekitar Rp. 45 Juta), tapi saya sangat menyukainya sampai-sampai saya memakainya setiap hari."

Meskipun tidak ada alasan yang benar-benar masuk akal mengapa ada orang yang mau membeli suatu barang yang harganya sangat mahal tapi fungsinya hanya bisa memberitahu kita waktu (yang rasanya ponsel semurah apapun juga mempunyai fungsi yang sama), banyak orang yang membeli barang dengan merk-merk terkenal merasa cukup puas karena berasumsi bahwa barang-barang tersebut berkualitas tinggi dan akan bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama.

Tapi, pasti ada alasan lain yang lebih kuat, kan?

"Saya menghabiskan uang sebesar 220.000 yen (sekitar Rp. 22 Juta) untuk membeli tas Louis Vuitton," kata Tomomi, seorang sales berusia 28 tahun. "Waktu saya membelinya, saya benar-benar senang dengan tas itu, tapi waktu saya lihat ternyata ada orang lain di tempat kerja yang sudah memiliki tas yang persis sama, saya langsung gelisah. Suatu kali saya mencoba membawanya ke kantor tanpa menarik perhatian, tapi saya merasa semua orang sudah menilai saya jelek. Saya benar-benar menyesal, kenapa saya tidak memilih tas yang lain."

Seperti Apa Pengeluaran Para Wanita Jepang

Ada yang suka belanja barang mewah, ada juga yang suka mempercantik diri. Contohnya seperti Erina, seorang karyawati IT yang berusia 31 tahun yang melakukan liposuction atau operasi sedot lemak. "Saya melakukannya hanya dua kali saja, totalnya 1.100.000 yen (sekitar Rp. 110 Juta). Saya lumayan puas, tapi rasanya saya sudah mulai gemuk lagi." Jadi mau melakukan operasi sedot lemak lagi? Kemungkinan besar iya, katanya.

Lain lagi seorang karyawati di sebuah perusahaan logistik yang lebih memilih belanja alat musik. "Seruling yang saya mainkan sekarang harganya 500.000 yen (sekitar Rp. 50 Juta), tapi ini bahannya asli sterling silver yang dibuat oleh Muramatsu," jelas Minae. "Orang mengatakan bahwa alat musik seruling cuma bisa bertahan paling lama delapan tahun, tapi yang satu ini sudah lebih dari delapan tahun, dan suaranya pun masih terdengar indah."

Seperti itulah gambaran sekilas tentang apa saja yang dibelanjakan para wanita karir di Jepang. Ya, uang dan penampilan adalah segalanya di negeri matahari terbit, mungkin tidak jauh beda dengan negara-negara lain. Tapi, sebelum kita menguras sebagian besar harta kita untuk membeli 'benda mati' - ada baiknya kita mendengar kesimpulan berikut ini...

Para ahli mengatakan bahwa orang-orang yang menghabiskan uang untuk mendapatkan pengalaman baru cenderung lebih bahagia daripada mereka yang menghabiskan uang untuk membeli barang-barang mewah. Contohnya seperti mereka yang suka jalan-jalan ke luar kota maupun ke luar negeri. "Pengalaman yang saya dapatkan tidak tergantikan," kata Kaori, yang baru saja pulang berkeliling Eropa bersama orangtuanya.

3 komentar:

  1. Balasan
    1. kok anda kagum???, coba baca tulisan yg paling akhir mbak?

      Hapus
  2. Intinya wanita jepang menolak untuk menikah dengan alasan berkarir but overall yang paling pasti SETIAnya yang saya dapat dan wajahnya cantik original nggak sama kayak tetangga K-POP yang permak wajah mereka dengan suntik botox... wkwkwk :D

    BalasHapus