In Budaya Jepang Orang Jepang Pendidikan Jepang

Tanggung Jawab dan Budaya Malu, Sebuah Pelajaran dari Jepang

Tanggung Jawab dan Budaya Malu, Sebuah Pelajaran dari Jepang
Baru beberapa hari penyelenggaraan Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang, negara Jepang telah menyita perhatian publik. Ada dua peristiwa yang menjadi penyebabnya. Pertama, viralnya foto seorang suporter Jepang yang memungut sampah (puntung rokok) di sekitar tempat pelaksanaan pertandingan dan kedua, dipulangkannya empat pemain basket Jepang karena telah melakukan perbuatan asusila dengan Pekerja Seks Komersial (PSK) ketika masih menggunakan kaos tim setelah tim Jepang mengalahkan Qatar.

Untuk peristiwa yang pertama, publik memberikan pujian kepada suporter tersebut. Sebelumnya juga pada saat piala dunia bulan Juni-Juli 2018 di Russia, suporter Jepang juga menuai pujian karena ikut membersihkan sampah pasca tim Jepang bermain.

Kebiasaan warga Jepang menjaga kebersihan memang dibentuk sejak kecil. Orang dan guru mendidik anak-ana Jepang agar memiliki kepedulian dan tanggung jawab menjaga kebersihan dan tidak saling mengandalkan, sehingga lambat laun, kebiasaan tersebut terbentuk dan terinternalisasi menjadi karakter.

Di sekolah-sekolah, masalah kebersihan tidak mengandalkan kepada penjaga sekolah atau tenaga kebersihan seperti halnya di Indonesia, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Para siswa diberikan jadwal untuk membersihkan toilet sekolah. Dan hal ini pada dasarnya merupakan bagian dari pembentukan karakter. Sedangkan di Indoensia, membersihkan toilet justru dijadikan sebagai sanksi bagi siswa yang melanggar peraturan sekolah, bukan sebagai sebuah tanggung jawab yang harus ditumbuhkan dalam pribadi siswa.

Pada jenjang SD kelas rendah, anak-anak sekolah difokuskan pada pembentukan sikap, sedangkan pada aspek kognitifnya, siswa tidak dibebani banyak materi pelajaran. Mengapa demikian? Karena pemerintah Jepang ingin agar setiap generasi mudanya memiliki karakter yang kuat. Dan salah satu dimensi dari karakter yang kuat adalah belajar dengan sungguh-sungguh.

Dan hasilnya dapat kita lihat bagaimana warga Jepang menjadi manusia yang tangguh, unggul, disiplin, mandiri, pekerja keras, kompetitif, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, dan memiliki budaya malu yang tinggi.

Peristiwa kedua merupakan peristiwa yang memalukan bagi Jepang, dimana empat atlet basket yang merupakan duta yang ditugaskan untuk membela panji negara malah melakukan perbuatan asusila pasca pertandingan.

Tanpa banyak basa-basi, keempat pemain basket tersebut langsung dipulangkan ke negaranya. Mungkin saja mereka adalah pemain kunci dan sangat dibutuhkan oleh tim basket Jepang, tetapi ternyata harga diri sebagai sebuah bangsa jauh lebih utama.

Pasca dipulangkan, keempat atlet dengan didampingi oleh ketua Asosiasi Basket dan ketua bidang teknis menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Mereka berenam (empat orang atlet dan dua orang pengurus) membungkuk sebagai bentuk permohonan maaf mereka.

Dibalik perbuatan tidak terpuji yang telah dilakukan oleh mereka, dapat dilihat bahwa mereka bersedia untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka dan secara ksatria memohon maaf. Begitupun dengan pengurus dan pembinanya, sama-sama ikut bertanggung jawab dan ikut memohon maaf. Bahkan saking malunya, salah seorang pemain basket yang dipulangkan mempertimbangkan untuk tidak bermain basket lagi.

Sebenarnya di Jepang sendiri industri seks merupakan salah satu penyumbang devisa negara. Dalam setahun menyumbang 260 triliun dan menjadi penyumbang devisa kedua (sumber: tandaseru.id). Walau demikian, di negara orang lain, mereka tetap diwajibkan menjaga harkat dan martabat sebagai sebuah bangsa. Jangan sampai membuat masalah dan sampai memalukan bangsa Jepang.

Tanggung jawab dan budaya malu memang menjadi hal yang sangat dipegang teguh oleh masyarakat Jepang. Di film-film Ninja, Samurai, atau film lainnya bisa dilihat bahwa jika mereka gagal menunaikan tugas, maka harakiri (bunuh diri) adalah sebuah jalan yang terhormat untuk mempertanggungjawabkan kegagalannya. Semboyan yang terkenal dari samurai adalah "lebih baik mati daripada berkalang malu."

Dalam perkembangannya, pejabat pemerintah mundur kalau merasa dirinya gagal sebagai pemimpin, tidak banyak alasan atau mencari kambing hitam. Dalam mesin pencari di internet misalnya, dapat dengan mudah kita mendapatkan berita pejabat pemerintah yang mundur hanya gara-gara tuduhan melakukan korupsi, terlibat skandal, tidak mampu menjaga mulut, tidak mampu menjaga stabilitas ekonomi, dan sebagainya.

Mengutip Nanoha (2005) Idrus Affandi, dkk dalam buku Memperkokoh Jati Diri Bangsa Belajar dari Kinerja dan Kultur Bangsa Jepang (Hal. 67-68) menyampaikan bahwa etos kerja bangsa Jepang antara lain : (1) mentalitas kelompok, (2) tertib dan bersih, (3) Lebih memilih melakukan pekerjaan dengan tangan, (4) kelompok  dan gaya manajerial keluarga, dan (6) pentingnya rasa malu.

Hal ini kadang bertolak belakang dengan kondisi di Indonesia. Dimana kalau yang masalah, maka yang muncul adalah bersilat lidah, membela diri, enggan bertanggung jawab, mencari-cari kambing hitam. Para pengurus pun enggan ikut bertanggung jawab, karena hal tersebut dianggap bukan kesalahan mereka. Dan justru malah ikut menyalahkan pemain yang melakukan kesalahan.

Bangsa Indonesia harus banyak belajar dari Jepang dalam hal tanggung jawab dan budaya malu, karena dua hal ini yang justru menjadi penyakit kronis yang menyebabkan bangsa ini menghabiskan banyak energi untuk berdebat akibat perbedaan pilihan politik atau perbedaan pendapat. Sikap ksatria menjadi sikap yang sangat langka ditampilkan oleh para pemimpin.

Justru yang dimunculkan adalah sikap saling sindir dan sikap saling menyalahkan, bahkan merendahkan secara terbuka baik melalui media sosial maupun media massa.

Sikap mengaku bersalah dianggap sebagai hal yang pantang dilakukan. Sebuah aib yang harus ditutupi. Oleh karena itu, berbagai langkah dilakukan untuk menutupi kesalahannya.

Walau demikian, kita pun dapat melihat pada pilkada suda ada beberapa pasangan calon kepala daerah yang secara gentle mengakui kekalahannya dan menyampaikan selamat kepada pemenang, tanpa harus mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat dengan kasat mata rendahnya tanggung jawab dan budaya malu dalam masyarakat. Beberapa hari yang lalu sempat viral foto seorang penumpang KRL makan kwaci dan mengotori KRL, orang yang membuang sampah sembarang, menyeberang jalan sembarangan, melanggar rambu-rambu lalu lintas, dan sebagainya.

Saat ini pemerintah tengah menggelorakan revolusi mental dan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang tujuan utamanya untuk membantuk bangsa Indonesia menjadi bangsa yang memiliki karakter yang kompetitif, berakhlak mulia, menjunjung persatuan dan persatuan berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945.

Selain bersumber dari nilai budaya sendiri, karakter positif dari bangsa Jepang yang relevan dengan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia dapat dicontoh atau diadaptasi oleh bangsa Indonesia. Mulailah dari hal yang kecil, misalnya membuang sampah pada tempatnya dan tertib berlalu lintas.



Bagikan

Related Articles

0 comments:

Posting Komentar