In Orang Jepang

"Hikikomori" Pemicu Bunuh Diri Kalangan Muda Jepang?

Hikikomori Pemicu Bunuh Diri Kalangan Muda Jepang?
Jika kita amati angka bunuh diri di berbagai negara memang tidak mengejutkan jika angka bunuh diri di Jepang tinggi.  Dalam hal angka bunuh diri  per 100.000 penduduknya Jepang menduduki peringkat 3 dunia setelah Korea Selatan yang menduduki peringkat pertama dan Hungaria.

Secara keseluruhan angka bunuh diri di jepang  dari semua kategori umur pada tahun 2017 lalu mencapai 25.000 orang.  Memang jika dibandingkan dengan angka bunuh diri pada tahun 2003 lalu tingkat bunuh diri ini menurun karena pada tahun 2003 lalu angka bunuh diri di Jepang mencapai 34.500 orang

Namun jika angka bunuh diri di Jepang dianalisa lebih dalam lagi kita akan menemukan bahwa angka bunuh diri di Jepang polanya berbeda dengan di negara lain.

Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir ini ternyata angka bunuh diri di kalangan anak dan pemuda menduduki peringkat teratas jika dibandingkan dengan kelompok usia lainnya.

Sebagai contoh pada tahun 2016-2017 angka bunuh diri di kalangan pelajar (SMP-SMA) mencapai angka 250 orang. Angka ini ternyata lebih tinggi jika dibandingkanm pada tahun sebelumnya. Angka bunuh diri di kalangan pelajar di Jepang yang tertinggi tercatat pada tahun 1986 lalu.

Berdasarkan data periode 1972-2013 yang dikeluarkan kementerian Jepang menunjukkan pola bunuh diri yang semakin meningkat pada semester kedua yaitu sekitar awal September.

Mengapa mereka Bunuh Diri?

Jika dilihat angka bunuh diri di Jepang pada tahun 2017 angkanya mencapai 25.000 orang.  Hal ini berarti setiap hari ada 70 kasus bunuh diri di Jepang. Angka ini merupakan angka tertinggi di kalangan negara maju.

Jepang memang memilki tradisi  panjang terkait dengan bunuh diri ini. Di era Samurai bunuh diri yang dikenal sebagai "seppuku" memang umum dilakukan demikian juga "kamikaze" yang dilakukan oleh pilot muda Jepang diera perang tahun 1945 memang memiliki catatan tersendiri.

Dari segi kejiwaan menurut pakar psikologi Jepang menyebutkan bahwa faktor utama yang menjadi pendorong bunuh diri adalah merasa terisolasi yang berkembang menjadi depresi.

Hal ini ditunjukkan oleh data empriris yang menunjukkan semakin banyak pemberitaan tentang bunuh diri yang dilakukan oleh warga Jepang terutama yang sudah lanjut umurnya meninggal di flat sendirian saja tanpa ada keluarga yang mengetahuinya.

Pada umumnya para orang tua lanjut ini hidup menyendiri karena tradisi anak mengurus orang tua sudah semakin luntur.  Disamping itu faktor lain yang mendorong warga Jepang melakukan bunuh diri adalah masalah keuangan.

Ada tiga penyebab bunuh diri di kalangan pelajar yaitu (1) masalah keluarga, (2) bullying dan (3) khawatir akan masa depan.

Disamping ketiga penyebab di atas ternyata sebagian besar bunuh diri di kalangan pelajar Jepang ini tidak diketahui, karena sebagian besar pelajar yang bunuh diri tidak meninggalkan catatan alasan bunuh dirinya.

Hikikomori

Ada fenomena yang sangat menarik sekaligus mengkhawatirkan yang diduga sebagai faktor yang erat hubungannya dengan  angka bunuh diri di kalangan anak muda Jepang semakin meningkat.  Fenomena ini dinamakan "Hikikomori".

Fenomena ini dilatarbelakangi oleh kemajuan teknologi yang menyebabkan kalangan muda Jepang terisolasi secara sosial.  Keterisolasian inilah yang akhirnya memicu bunuh diri.

Hikikomori terkait dengan fenomena di kalangan anak muda Jepang untuk berdiam diri di rumah dan mengisolasi diri dari masyarakat lebih dari 6 bulan.

Femonema Hikikomori  ini angkanya memang cukup mengejutnya karena pada tahun 2010 saja angka Hikikomori  di Jepang mencapai 700.000 dengan rataan usia 31 tahun.

Kalangan muda yang terkena Hikikomori ini secara total mengisolasi diri dari dunia luar, hanya tinggal di kamar dan tidak keluar rumah berbulan bulan bahkan sampai beberapa tahun.

Kasus terburuk dari Hikikomori ini terjadi ketika seseorang sudah sedemikan ekstrimnya sehingga tidak pernah lagi bersosialisasi dan tidak mau bertemu muka  orang lain lagi termasuk anggota keluarganya. Hikikomori ternyata lebih banyak terjadi pada laki laki jika dibandingkan dengan perempuan di kelompok umur kategori pemuda.

Hal lain yang juga mengejutkan adalah sekitar 20% laki laki usia 25-29 tahun menyatakan tidak tertarik dengan berhubungan dengan wanita.  Sikap anti sex di kalangan laki laki Jepang ini memang merupakan permasalahan tersendiri di Jepang.

Apapun latar belakangnya, angka bunuh diri yang tinggi di jepang terutama di kalangan pelajar ini menyisakan permasalahan tersendiri sebagai dampak kemajuan teknologi dan ekonomi yang sudah mulai menggeser tradisi ikatan keluarga yang sebelumnya sangat kuat.

Hikikomori Pemicu Bunuh Diri Kalangan Muda Jepang?


Bagikan

Related Articles

0 comments:

Posting Komentar