In Pendidikan Jepang

Siswa SD di Jepang Sudah Berbahasa Inggris, Indonesia Kapan?

Pada tahun 2016, Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang mengeluarkan keputusan untuk mengimplementasikan Bahasa Inggris pada kurikulum sekolah dasar (SD). Kementerian menilai bahwa Bahasa Inggris perlu dipelajari sedini mungkin dikarenakan betapa pentingnya Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Hal tersebut juga ditambah dengan partisipasi Jepang sebagai tuan rumah di Tokyo Olympics (2020) nanti. Oleh karena itu, Jepang akan membutuhkan banyak individu yang mahir dalam berbahasa Inggris.

Di sisi lain, Indonesia sampai saat ini belum mengambil keputusan serupa. Sundaryani, peneliti kurikulum Indonesia, menilai Bahasa Inggris belum saatnya untuk diimplementasikan di Indonesia. Penilaian tersebut berdasarkan dua pertimbangan, yakni 1) ia menilai siswa SD saat ini belum mampu menerima pembelajaran Bahasa Inggris; dan 2) guru Bahasa Inggris untuk SD di Indonesia dinilai masih kurang mampu dalam mengajar Bahasa Inggris. Namun, jika ditinjau dari perkembangan teknologi dan penggunaan Bahasa Inggris di berbagai platform di dunia, kedua pertimbangan yang dikatakan Sundaryani mengenai kesiapan penerapan Bahasa Inggris di kurikulum sekolah dasar Indonesia seharusnya bukan menjadi masalah.

Siswa SD di Jepang Sudah Berbahasa Inggris, Indonesia Kapan?

Hilda Taba (1962) berpendapat, kurikulum tidak hanya terletak pada pelaksanaannya, tetapi pada keluasan cakupannya yakni isi, metode, dan tujuannya, terutama tujuan jangka panjang, karena justru kurikulum terletak pada tujuannya yang umum dan jangka panjang itu, sedangkan implementasinya yang sempit termasuk pada pengajaran, yang keduanya harus kontinum.

Pada era globalisasi seperti saat ini, dunia terasa terus menerus mengecil. Informasi di mana saja akan sangat mudah tersebar dan jembatan dalam proses penyebaran informasi tersebut adalah Bahasa Inggris. Jika kita teliti, hampir semua platform di dunia menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya.

W3techs melakukan sebuah survei di tahun 2017 untuk menghitung jumlah website yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya. hasil survei tersebut menyatakan 57,6% website di dunia menggunakan Bahasa Inggris. Tidak hanya itu, smartphone, games, dan aplikasi media sosial yang sehari -- hari kita gunakan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya. Hal ini berarti dengan banyaknya penggunaan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari -- hari anak zaman sekarang secara tidak langsung mempelajari Bahasa Inggris setiap kali ia bermain games, membuka website, dan bermain media sosial.

Tidak hanya itu, perkembangan teknologi juga sangat membantu meningkatkan angka kompetensi guru. Berbagai metode yang disediakan internet dapat dijangkau dan dipelajari dengan mudah oleh guru. Rusman, dkk pada penelitiannya mengatakan bahwa teknologi berdampak baik bagi perkembangan guru yakni 1) memperluas latar belakang pengetahuan guru ; 2) pembelajaran lebih dinamis dan fleksibel ; dan 3) mengatasi keterbatasan bahan ajar. Dari penelitian tersebut dapat dikatakan dengan berkembangnya teknologi, nilai kompetensi guru juga ikut meningkat dan penyataan Sundaryani mengenai rendahnya tingkat kompetensi guru bukan lagi menjadi masalah.

Setelah penjelasan di atas, kemudian muncul sebuah pertanyaan "apa lagi yang ditunggu Indonesia untuk mengimplementasikan Bahasa Inggris di kurikulum SD?".

Pemerintah Indonesia perlu meninjau ulang masalah ini dengan mempertimbangkan pentingnya Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Dengan bertambah pesatnya perjalanan era globalisasi, kebutuhan akan individu dengan kemampuan Bahasa Inggris akan semakin meningkat.

Jika kita lihat pada event Asian Games yang telah terlaksana baru -- baru ini, ajang olahraga yang dihadiri oleh berbagai negara di Asia itu tentu memerlukan banyak penerjemah yang ahli dalam berbahasa Inggris. Untuk menyelesaikan masalah ini, diperlukan adanya implementasi Bahasa Inggris sedini mungkin -- dalam hal ini yakni pada kurikulum SD.

Jadi, tunggu apa lagi?




Bagikan

Related Articles

0 comments:

Posting Komentar